Horizon Masa Depan (Kisah sang Peramal 3)

horizon birunya laut

Konsultasi tarot gratis sekarang melanjutkan Chapter ketiga dari Kisah sang peramal. Ramalan dan probabilitas sering sekali menghantui hidup kita. Contohnya saja ramalan cuaca hari (loh, maksudnya apa). Kita seringkali memprakirakan atau meramal sesuatu sesuai dengan kondisi yang sering kita lihat. Contohnya jika awan mendung, kita bisa meramal kalau beberapa waktu lagi akan hujan. Sistem yang sama berlaku untuk ramalan kartu tarot. Mari kita simak kisah sang peramal tiga yang mengungkapkan sistem ramalan ini.
[IklanGA1]
Di sinilah tempat dimana kita bisa melihat langit dan lautan bertemu. Di sini pula kita dapat melihat bahwa mata kita mampu melihat dua warna biru yang berbeda. Meskipun ada dua hal yang berlawanan, bukan tidak mungkin mereka bisa bertemu dan meskipun ada dua hal yang mirip, bukan tidak mungkin keduanya memiliki perbedaan. Tidak ada yang mutlak di dunia ini. Ketidakmutlakan itu dibeberkan terang-terangan di pantai ini.

Angin berhembus dari laut menerpa wajah kita. Sinar matahari yang menyilaukan menyinari seluruh permukaan sesuai dengan hukum keadilan yang dia punya. Pasir menjadi panas akibat sinarnya namun air laut tetap mempertahankan kesejukannya. Keheningan di balik suara alam membawa kita hanyut ke dalam ketenangan yang indah. Angin, Langit, lautan, awan, pasir, semua yang ada di sekitar kita seakan hidup. Mereka memberi energinya, melepas semua kepenatan yang ada di kepala kita.

Saci melangkah perlahan-lahan di bibir pantai. Di atas hamparan pasir basah, dia meninggalkan jejak-jejak kaki yang sesaat kemudian hilang disapu ombak. Sepatu kerja ditentengnya. Dia membiarkan kakinya bertelanjang dan merasakan energi pasir yang hangat. Dia berjalan lurus menjauh dari tempat yang penuh keramaian. Canda tawa dan obrolan yang memenuhi telinganya ketika datang, dia tinggalkan.

Wanita itu akhirnya sampai di ujung pantai. Tanah pasir mencapai batasnya. Hanya tersisa lantai batu yang penuh bekas-bekas perlawanan air terhadapnya. Di atas sana seorang gadis berdiri dengan syal merah sambil memandangi horizon yang terbentang di depan matanya. Saci Menatap gadis itu.Di hatinya muncul sedikit nostalgia.

“SIKHA!!!” panggil Saci. Gadis itu menoleh. Wajahnya terkejut.

“Kak Saci, lama ngga melihatmu.”

Sikha turun dari tempatnya berdiri. Gadis itu langsung memeluk Saci sesampainya di bawah.

“Hey, cuma ngga ketemu empat tahun kan?”

“Cuma? Itu lama sekali. Aku ngga pernah bisa ketemu kakak. Kemana aja selama ini? Sejak aku kuliah, aku tidak pernah bisa menghubungimu. Liburanpun aku ngga bisa menemukanmu dimana-mana.”

“Aku pindah. Ini aja aku cuma iseng jalan-jalan ke sini.”

“Ke mana?”

“Rahasia.”

Sikha merengut. “Kamu meninggalkanku.”

Saci melihat raut kecewa di wajah Sikha. “Maaf.. lagian kamu ngga harus ada aku kan? Kamu kan udah selesai belajar dari aku.”

“Tapi menghilang seperti itu, akupun sulit menerima.”

“Kalau aku melihatmu, aku tidak akan bisa pergi dari sini.”

“Kenapa harus pergi? kakak masih saja suka merahasiakan sesuatu dariku.”

“Ada hal yang tidak perlu dikatakan. Ngomong-ngomong gimana keadaanmu selama ini?”

“Aku segini-segini aja.  Syal yang kakak kasi juga masih baik-baik saja. Aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Itu aja yang membuatku merasa kurang baik.”

“Masih ngambek juga rupanya.”

“Iya dong, empat tahun aku menantikanmu.”

“Nanti aku ceritakan. Kita masih bisa ketemu lagi kan?”

“Tentu saja, asalkan kakak kasi tau gimana caranya aku bisa menghubungi kakak.”

“Iya, nanti aku kasi tahu. Sekarang kamu ngapain?”

“Aku udah selesai kuliah. Selama ini aku jadi peramal. Gini-gini sekarang aku mungkin sudah seimbang dengan kakak. Aku punya banyak klien yang percaya padaku, aku yakin hasil ramalanku bisa bersaing dengan hasil ketepatan ramalanmu sekarang.”

Saci hanya menatap Sikha. Sikha dapat melihat kalau tidak ada raut kegembiraan di wajah Saci.

“Ada apa kak? Kakak tidak suka aku jadi peramal yang hasil ramalannya bisa menyaingi hasil ramalan kakak?”

Saci menghela nafas. “Bukan. Aku tidak mungkin tidak senang mendengar kamu bisa menjadi peramal seperti apa yang selalu kamu cita-citakan selama ini. Hanya saja kadang-kadang lebih baik jika kita tidak mengetahui isi ramalan itu.”

“Hey, apa salahnya dengan itu. Dengan mengetahui masa depan, kita bisa selangkah lebih maju kak. Aku ngga percaya kata-kata seperti itu keluar dari bibir seorang peramal hebat seperti kakak.” jawab Sikha kecewa.

“Kadang-kadang terlalu banyak mengetahui masa depan membuat kita menjadi ketakutan.”

“Kenapa? Aku belum pernah takut melihat masa depan sampai saat ini.”

“Sudahlah, kita makan saja dulu. urusan ramal meramalnya nanti saja. Aku masih pengen mendengar apa yang kamu lakukan selama ini.”

Sikha masih belum puas, tapi dia mengikuti saja apa yang disarankan Saci. “Aku mau kentang goreng.” kata Sikha tiba-tiba

“Jangan makan kentang goreng terus. Nanti kamu cepat tua.”

“Kan cuma sesekali.”

Di hadapan debur ombak, Sang peramal sempat bertemu dengan orang yang dinantinya selama ini. Masa lalu dan masa depannya dimulai dari karang itu. Di hadapan horizon itu juga dia menantikan masa depannya empat tahun yang lalu. Sekarang di hadapan horizon yang sama, dia berhasil bertemu dengan masa lalunya. Masa lalu sang peramal akan diungkapkan pada chapter ke empat. Ikuti terus kisah sang peramal di blog ini ya…

Bookmark and Share

Leave a Reply