Ketidakpastian Hati (Kisah Sang Peramal 1)

wanita

EEVF2CN9G56D Admin Konsultasi Tarot Gratis agak lelah, jadi iseng menuliskan cerita tentang seorang peramal. Rangkaian Kisah Sang Peramal ini ditulis untuk hiburan semata. Tidak ada hubungannya dengan kejadian nyata. Jadi, jika ada kemiripan tokoh atau kejadian, itu cuma kebetulan saja. Oke, kita mulai kisahnya. Ini edisi satu.

Kartu tarot, garis tangan, astrologi, numerologi, semua itu sangat akrab dengan dirinya. Tapi jika ditanya apa yang paling menarik hatinya, tanpa ragu dia akan menjawab kartu tarot. Lukisan-lukisan di dalam kartu tarot bersatu dengan keindahan kehidupan serta masa depan yang kadang ngeri untuk diungkapkan. Dia menuntut keheningan tapi mengungkap segala gejolak di dalam hati. Apa yang bisa lebih indah daripada itu?

Masker hitam dan syal merah adalah dua benda yang tak pernah dia lupakan. Siapapun kliennya, dimanapun tempatnya, dia tidak peduli. Tak satupun di dunia ini yang boleh melihat wajahnya yang asli sebagai sang peramal. Kartu tarot di balik kotak beludru berwarna ungu itu sajalah yang boleh mengetahui wajah majikannya. Di tengah hidup yang selalu penuh perubahan, hal ini tidak boleh berubah.

Sang peramal mengocok kartu tarotnya sambil menutup mata. “Berikan petunjukmu dan jawablah segala pertanyaanku” batinnya. Permintaan yang sama dan tanpa lelah dia lontarkan setiap berkomunikasi dengan kumpulan kartu tarot itu.

Klien wanita di hadapannya menanti dengan kilatan mata penuh ingin tahu. Dia terdiam namun memperhatikan setiap detil gerakan yang dilakukan sang peramal. Matanya tidak pernah lepas dari tumpukan kartu tarot di tangan sang peramal. Ketika sang Peramal meletakkan kartunya di atas meja, kekawatiran mulai merasuki dirinya. Apakah kartu tarot akan memperlihatkan masa depan yang baik ataukah yang buruk.

Sang Peramal mulai mengambil satu per satu kartu tarot. Hening di antara keduanya belum juga pudar hingga sang Peramal mulai berbicara, “Hubungan anda akan berada dalam bahaya. Di masa lalu sepertinya suami anda menikah dengan anda karena berhutang budi. Saat ini dia ingin mendapatkan kebebasannya kembali.”

Klien terlihat gusar. Dengan nada kecewa dia mulai berbicara,”Tapi saya selalu memberikan apa yang dia butuhkan. saya tidak pernah melawan apapun yang dia katakan. Saya selalu berusaha menjadi istri yang baik.”

Sang peramal menghela nafas sesaat. Sejenak setelah itu dia menatap mata kliennya dalam-dalam.

“Hati itu adalah sesuatu yang paling tidak pasti. Tidak satupun manusia bisa benar-benar membaca hati orang lain. Kita juga tidak bisa memastikan hati itu ada untuk anda hanya karena anda memberikan segala yang dibutuhkan oleh badan. Badan dan hati adalah dua hal yang sudah berbeda dimensi. Apa yang menjadi kepuasan hati hanyalah apa yang diinginkan hati itu saja, tidak ada yang lain. Hanya dengan memenuhi kebutuhan materi dan fisik, belum tentu kebutuhan hati itu akan terpenuhi.” kata Sang Peramal tanpa emosi di setiap patah katanya.

Klien terdiam, dia kehilangan semua pertanyaannya. Sang Peramal merapikan kembali kartu tarot yang tertebar di atas meja. Dia memasukkan semuanya ke dalam kotak beludru ungu.

“Jika sudah tidak ada yang ditanyakan, saya permisi.” kata sang peramal sambil memasukkan kartu tarotnya ke dalam tas. Klien itu terdiam dan menunduk. Tak satupun jawaban dia berikan. Melihat hal itu sang Peramal segera berdiri dan melangkah pergi.

Beberapa langkah dari tempat itu, klien merasakan bulir-bulir air matanya mengalir begitu saja. Sang Peramal dapat mengetahui kepedihan itu. Dia juga sudah tahu sebenarnya kliennya ini sudah menyadari apa yang mungkin akan terjadi. Tapi cinta itu memang buta. Cinta juga tidak tahu kapan harus berhenti.

Bookmark and Share

Leave a Reply